Langsung ke konten utama

PELATIHAN TIK MABA UNY 2018 (RESENSI BUKU)


RESENSI BUKU


Judul Buku      : Model- model Pembelajaran Emansipatoris
Penulis             : Agus Suprijono
Penerbit                       : Pustaka Pelajar
Tahun Terbit   : 2016
Tebal Halaman            : 253 halaman



A.   SINOPSIS BUKU
Model pembelajaran emansipatoris diaksentuasikan pada pembelajaran barpusat pada peserta didik. Namun, buku ini juga tidak mengisolasi keberadaan model pembelajaran berpusat pada guru.. beberapa model pembelajaran berpusat pada guru sengaja disajikan agar oposisi binary (pembelajaran berpusat pada siswa versus pembelajaran berpusat pada guru) memudahkan pembaca memahami makna model pembelajaran emansipatoris.
Model pembelajaran emansipatoris dihadirkan oleh beberapa alasan (1) transformasi dunia karena revolusi teknologi telekomunikasi dan komputer menjadi agenda utama perubahan dunia saat ini. Dunia tidak lagi dapat dipandang sebagai benua- benua yang terpisah atau kumpulan negara- negara yang terpisah, melainkan dunia menjadi syaraf global telekomunikasi dan komputer. Kepesatan perkembangan teknologi telekomunikasi dan komputer telah mengantarkan masyarakat memasuki era global; (2) Globalisasi ditandai oleh kompleksitas keragaman kehidupan masyarakat. Model kehidupan seperti ini tak dapat lagi direduksi ke dalam model- model normatif yang standar dan tak banyak lagi peraturan sentral. Aktifitas hidup lebih banyak bermula dan berlangsung pada interaksi- interaksi antar individu yang diprakarsai individu itu individu itu sendiri. Society is produced and reproduced by the interacting individuals; (3) Setiap individu di era global dituntut  mengembangkan kapasitasnya secara optimal, kreatif, dan mengadaptasikan diri ke dalam situasi global yang amat bervariasi dan cepat berubah. Setiap individu dituntut melakukan costumization. Setiap individu dituntut memiliki daya nalar kreatif dan kepribadian yang tidak simpel, melainkan kompleks. Sekompleks situasi- situasi penuh varian yang dihadapi.  




B.    ISI BUKU
Fenomenologi dan konstruksi sosial memberikan akses pemikiran tentang hubungan antara subjek dan objek. Kedua konsep tersebut memberikan posisi penting subjek dalam pembentukan pengetahuan. Pengetahuan manusia tidak ditentukan oleh objek, tetapi subjek yang menghasilkan pengetahuan itu. Fenomenologi menempatkan peran individu sebagai pemberi makna.
Sedangkan  konsep situated cognition dikembangkan dalam pembelajaran kontruktivistik menekankan pengetahuan dilekatkan dan dihubungkan dengan konteks dimana pengetahuan tersebut dikembangakan. Jika demikian maka masuk akal untuk menciptakan situasi pembelajaran yang semirip mungkin dengan dunia riil. Hal ini berarti konstruktivitik memberikan arah pemikiran pentingnya pembelajaran berbasis kontekstual.
Dan sudah pasti jika kita ingin menjadi pendidik yang professional kita dituntut untuk berpikir kritis. Berpikir kritis dilandasi oleh nilai intelektual universal yaitu standarisasi yang diaplikasikan dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran merumuskan masalah, isu- isu, atau situasi tertantu. Berpikir kritis selalu mengacu pada nilai intelrktual universal, nilai universal yang dimaksud adalah Clarity (kejelasan), Accuracy (keakuratan, ketelitian, dan keseksamaan), Prescision (ketepatan).
Model pembelajaran emansipatoris dikembangkan berdasarkan teori humanistik. Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses pemebelajarannya berusaha agar lambat laun dirinya mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik- baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pembelajar. Pemaham perilaku belajar dari sudut pandang pembelajar menyiratkan pengembangan kemampuan berpikir kritis.
Model pembelajaran emansipatoris dikembangkan dengan tujuan menghasilkan agen atau siswa yang memiliki sikap kritis dan semangat pencerahan. Pembelajaran ini diartikan sebagai proses pembebasan kehidupan dari unsur- unsur pembelenggu, sebuah proses yang berkelanjutan, tiada henti dan sekaligus dinamis. Semakin kritis siswa, semakin mampu yang bersangkutan mengubah kenyataan hidupnya. Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir yang ditandai dengan kemampuan mengidentifikasi asumsi yang diberikan, kemampuan merumuskan pokok- pokok permasalahan, kemampuan menetukan akibat dari suatu ketentuan yang diambil dan kemampuan mengevaluasi argument yang relevan dalam penyelesaian suatu masalah. Oleh karena itu model pembelajran harus  memiliki prosedur sistematik untuk mengubah tingkah laku peserta didik atau memiliki sintaks sebagai urutan langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan guru peserta didik.



C.    KESIMPULAN
Dari buku ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Model- model pembelajaran emansipatoris memiliki barbagai macam aspek. Salah satunya kita dan peserta didik dituntut untuk berpikir kritis.
  
D.   KELEBIHAN BUKU
·         Buku ini menggunakan Bahasa yang formal dan sesuai KBBI.
·         Buku ini sangat bermanfaat, jika ingin menjadi pendidik yang cerdas dan berkompetensi kita akan menemukan berbagai macam metode yang bervariatif di dalam buku ini.
E.    KELEMAHAN BUKU
·        Di dalam buku ini terdapat banyak pengulangan kata yang mana menjadi sedikit sulit untuk dibaca.

http://uny.ac.id  http://library.uny.ac.id  https://journal.uny.ac.id

Komentar

  1. buku ini dapat diakses pada laman web berikut http://library.uny.ac.id
    https:// journal.uny.ac.id http://uny.ac.id

    BalasHapus

Posting Komentar