RESENSI
BUKU
Judul Buku :
Model- model Pembelajaran Emansipatoris
Penulis :
Agus Suprijono
Penerbit :
Pustaka Pelajar
Tahun Terbit :
2016
Tebal Halaman :
253 halaman
A. SINOPSIS
BUKU
Model pembelajaran emansipatoris
diaksentuasikan pada pembelajaran barpusat pada peserta didik. Namun, buku ini
juga tidak mengisolasi keberadaan model pembelajaran berpusat pada guru..
beberapa model pembelajaran berpusat pada guru sengaja disajikan agar oposisi
binary (pembelajaran berpusat pada siswa versus pembelajaran berpusat pada
guru) memudahkan pembaca memahami makna model pembelajaran emansipatoris.
Model pembelajaran emansipatoris
dihadirkan oleh beberapa alasan (1) transformasi dunia karena revolusi
teknologi telekomunikasi dan komputer menjadi agenda utama perubahan dunia saat
ini. Dunia tidak lagi dapat dipandang sebagai benua- benua yang terpisah atau
kumpulan negara- negara yang terpisah, melainkan dunia menjadi syaraf global
telekomunikasi dan komputer. Kepesatan perkembangan teknologi telekomunikasi
dan komputer telah mengantarkan masyarakat memasuki era global; (2) Globalisasi
ditandai oleh kompleksitas keragaman kehidupan masyarakat. Model kehidupan
seperti ini tak dapat lagi direduksi ke dalam model- model normatif yang
standar dan tak banyak lagi peraturan sentral. Aktifitas hidup lebih banyak
bermula dan berlangsung pada interaksi- interaksi antar individu yang
diprakarsai individu itu individu itu sendiri. Society is produced and reproduced by the interacting individuals;
(3) Setiap individu di era global dituntut
mengembangkan kapasitasnya secara optimal, kreatif, dan mengadaptasikan
diri ke dalam situasi global yang amat bervariasi dan cepat berubah. Setiap
individu dituntut melakukan costumization.
Setiap individu dituntut memiliki daya nalar kreatif dan kepribadian yang tidak
simpel, melainkan kompleks. Sekompleks situasi- situasi penuh varian yang
dihadapi.
B. ISI
BUKU
Fenomenologi dan konstruksi sosial
memberikan akses pemikiran tentang hubungan antara subjek dan objek. Kedua
konsep tersebut memberikan posisi penting subjek dalam pembentukan pengetahuan.
Pengetahuan manusia tidak ditentukan oleh objek, tetapi subjek yang
menghasilkan pengetahuan itu. Fenomenologi menempatkan peran individu sebagai
pemberi makna.
Sedangkan
konsep situated cognition
dikembangkan dalam pembelajaran kontruktivistik menekankan pengetahuan
dilekatkan dan dihubungkan dengan konteks dimana pengetahuan tersebut
dikembangakan. Jika demikian maka masuk akal untuk menciptakan situasi
pembelajaran yang semirip mungkin dengan dunia riil. Hal ini berarti
konstruktivitik memberikan arah pemikiran pentingnya pembelajaran berbasis
kontekstual.
Dan sudah pasti jika kita ingin menjadi
pendidik yang professional kita dituntut untuk berpikir kritis. Berpikir kritis
dilandasi oleh nilai intelektual universal yaitu standarisasi yang
diaplikasikan dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran
merumuskan masalah, isu- isu, atau situasi tertantu. Berpikir kritis selalu
mengacu pada nilai intelrktual universal, nilai universal yang dimaksud adalah Clarity (kejelasan), Accuracy (keakuratan, ketelitian, dan
keseksamaan), Prescision (ketepatan).
Model pembelajaran emansipatoris
dikembangkan berdasarkan teori humanistik. Menurut teori humanistik, tujuan
belajar adalah memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika
pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses
pemebelajarannya berusaha agar lambat laun dirinya mampu mencapai aktualisasi
diri dengan sebaik- baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku
belajar dari sudut pandang pembelajar. Pemaham perilaku belajar dari sudut
pandang pembelajar menyiratkan pengembangan kemampuan berpikir kritis.
Model pembelajaran emansipatoris
dikembangkan dengan tujuan menghasilkan agen atau siswa yang memiliki sikap
kritis dan semangat pencerahan. Pembelajaran ini diartikan sebagai proses
pembebasan kehidupan dari unsur- unsur pembelenggu, sebuah proses yang
berkelanjutan, tiada henti dan sekaligus dinamis. Semakin kritis siswa, semakin
mampu yang bersangkutan mengubah kenyataan hidupnya. Kemampuan berpikir kritis
adalah kemampuan berpikir yang ditandai dengan kemampuan mengidentifikasi asumsi
yang diberikan, kemampuan merumuskan pokok- pokok permasalahan, kemampuan
menetukan akibat dari suatu ketentuan yang diambil dan kemampuan mengevaluasi
argument yang relevan dalam penyelesaian suatu masalah. Oleh karena itu model
pembelajran harus memiliki prosedur
sistematik untuk mengubah tingkah laku peserta didik atau memiliki sintaks
sebagai urutan langkah-langkah pembelajaran yang dilakukan guru peserta didik.
C. KESIMPULAN
Dari buku ini kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa Model- model pembelajaran emansipatoris memiliki barbagai
macam aspek. Salah satunya kita dan peserta didik dituntut untuk berpikir
kritis.
D. KELEBIHAN
BUKU
·
Buku ini menggunakan Bahasa yang formal
dan sesuai KBBI.
·
Buku ini sangat bermanfaat, jika ingin
menjadi pendidik yang cerdas dan berkompetensi kita akan menemukan berbagai
macam metode yang bervariatif di dalam buku ini.
E. KELEMAHAN
BUKU
·
Di dalam buku ini terdapat banyak
pengulangan kata yang mana menjadi sedikit sulit untuk dibaca.
http://uny.ac.id http://library.uny.ac.id https://journal.uny.ac.id
http://uny.ac.id http://library.uny.ac.id https://journal.uny.ac.id

buku ini dapat diakses pada laman web berikut http://library.uny.ac.id
BalasHapushttps:// journal.uny.ac.id http://uny.ac.id